Search
Generic filters
Exact matches only

Bela Guttmann dan Kutukannya kepada Benfica

0
6 months ago

Peribahasa yang mengatakan “Mulutmu adalah Harimaumu” mungkin cocok untuk menggambarkan kisah antara Bela Guttman dan bekas klub yang dilatihnya, Benfica.

Gara-gara perkataan dari Bela Guttmann, Benfica tidak pernah berprestasi lagi di kompetisi antar klub-klub Eropa, Liga Champion. Padahal sebelumnya saat dilatih oleh Guttmann, Benfica bahkan pernah menjuarai kompetisi ini selama 2 tahun berturut-turut dari tahun 1961 sampai dengan tahun 1962.

Bela Gutmann adalah seorang Yahudi yang lahir pada tanggal 27 Januari tahun 1899 di Budapest. Karena lahir dan besar sebagai Yahudi, Guttmann dideportasi oleh Nazi dan hampir membuatnya mnejadi korban dari Holocaust.

Singkat cerita, sebelum menjadi pelatih Guttmann pernah mencicipi karir sebagai pemain bola profesional. Namun karir sepakbolanya biasa-biasa saja karena hanya membela tim-tim amatir seperti Hakoah Wien yang merupakan tim asal Austria, New York Hakoah dan Hakoal ALl-Stars yang merupakan tim asal Amerika Serikat. Tim-tim tersebut merupakan tim-tim kesebelasan eksekutif Yahudi.

Tapi, lain halnya saat Guttmann jadi seorang pelatih. Bisa dikatakan Guttmann merupakan pelatih yang jenius yang eksentrik dan karismatik. Filosofi menyerang yang diusungnya membuat klub-klub yang dia latih bermain atraktif dan juga menghasilkan trofi tentunya. Guttmann tak pernah bertahan lama saat menukangi sebuah klub. Dia tak pernah melatih sebuah klub sampai tahun ketiga, karena menurutnya musim ketiga itu fatal. Karena melatih klub dengan jangka pendek inilah membuat Guttmann bisa melatih banyak klub, tercatat dalam karir kepelatihannya total dia telah melatih sebanyak 25 klub, diantara klub-klub tersebut terdapat beberapa klub besar yang sempat dilatihnya., yaitu Benfica, Porto, AC Milan, dan Sao Paulo.

Klub yang disebutkan pertama yang paling berkesan dan bahkan mempunyai cerita sendiri.

 

Bela Guttmann mulai melatih Benfica pada tahun 1958. Dibawah kepelatihannya, Guttmann mengubah Benfica yang berisikan pemain-pemain lokal macam Eusebio, Mario Coluna, Jose Aguas, Jose Augusto dan pemain lainnya menjadi salah satu kekuatan baru di Eropa pada saat itu.

Benfica dibawanya menjuarai Liga Champion 2 musim berturut-turut dari tahun 1961 hingga tahun 1962. Pada Final tahun 1961 saat melawan Barcelona, Benfica membalikkan keadaannya menjadi 3-2 lewat gol-gol Aguas, Coluna, dan bunuh diri dari pemain Barcelona Ramallets setelah sebelumnya tertinggal lebih dahulu lewat gol Kocsis pada menit 21.

Di final tahun 1962, Benfica bahkan menang meyakinkan atas Real Madrid yang saat itu terdapat 2 pemain bintang pada sosok Alfredo Di Stefano dan Ferenc Puskas dengan skor 5-3 lewat gol-gol dari Aguas, Cavem, Coluna, dan Eusobio. Sementara gol Madrid dicetak lewat hattrick dari Ferenc Puskas.

Seusai pertandingan, Guttmann mengadakan pertemuan dengan manajemen klub untuk menaikkan gajinya karena telah mengantarkan Benfica menjadi juara Eropa dan mengubah tim tersebut menjadi salah satu kekuatan baru di Eropa saat itu. Namun, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh manajemen klub. Manajemen klub beralasan karena dalam kontrak Guttmann, tidak disebutkan dia akan diberikan bonus tambahan jika meraih sukses bersama klub.

Pernyataan dari manajemen klub tersebut membuat Guttmann naik pitam dan meluapkan amarahnya. Bela Guttmann lalu mengeluarkan sumpah dari mulutnya yang mana sumpah tersebut menjadi terkenal hingga sekarang.

“Dalam waktu seratus tahun dari sekarang, Benfica tidak akan pernah lagi menjadi juara Eropa,” itulah isi sumpah Guttmann buat Benfica, berdasarkan apa yang dilansir dari World Football. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Guttmann juga memutuskan angkat kaki dari klub.

Sumpah tersebut akhirnya menjadi kutukan sendiri buat Benfica dan bertahan sampai sekarang. Terbukti sejak Guttmann mengeluarkan sumpah tersebut pada tahun 1963 hingga sekarang, Benfica selalu gagal berprestasi di Eropa setelah berhasil menembus final sebanyak 7 kali.

Ada upaya tersendiri dari Benfica untuk memutus kutukan tersebut. Sebelum laga final Liga Champion kontra AC Milan, Benfica diwakili oleh mantan pemain legendaris mereka, Eusebio, mendatangi makam Guttmann untuk berdoa meminta ampun kepada mantan pelatihnya tersebut.

Namun disayangkan, upaya tersebut gagal. Benfica harus takluk 0-1 dari AC Milan dan harus kembali menunggu untuk bisa berpestrasi kembali di Eropa.

Uniknya, kutukan tersebut rupanya berlaku juga untuk kompetisi kasta dua Eropa, Liga Europa. Benfica dua kali beruntun masuk final pada kompetisi liga Europa, yaitu pada tahun 2013 saat melawan Chelsea dan 2014 saat melawan Sevilla. Namun, Benfica tetap saja gagal meraih gelar juara di kedua final tersebut. Sepertinya Benfica harus menunggu sampai tahun 2063 ya agar lepas dari kutukan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Members
  • Active
  • New
  • Online
  • Groups
  • Active
  • Newest
1.
avatar
Yustisia Susandi
149206 points
Dark mode