Search
Generic filters
Exact matches only

Kebal Terhadap Benda-benda Tajam, Begitulah Yang Diajarkan dari Kesenian Bela Diri Ini

0
6 months ago

Debus merupakan salah satu kesenian dari Banten, Indonesia. Kesenian ini sudah ada sejak abad ke-16 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin dalam rangka penyebaran agama Islam di Nusantara. Kesenian bela diri ini biasanya mempertunjukkan kemampuan seorang manusia yang luar biasa dalam menahan siksaan jasmani yang disengaja, seperti kebal dengan air keras, senjata tajam, api, dan yang lainnya. Kesenian ini memang terbilang sangat ekstrim. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kesenian ini menjadi alat untuk memacu semangat juang rakyat Banten dalam melawan penjajah Belanda pada masa itu.

Hingga saat ini pun, debus masih tetap bertahan sebagai bentuk identitas masyarakat Banten, yaitu identitas yang religius. Namun, dalam perkembangannya  kesenian debus biasanya dikombinasikan dengan seni tari, seni suara, dan seni kebatinan yang bernuansa magis. Debus biasanya digunakan sebagai sarana upacara adat atau hanya sekedar hiburan untuk masyarakat. Biasanya diawali dengan pembukaan berupa pembacaan Shalawat Nabi dan dzikir selama 30 menit dengan iringan tetabuhan. Kemudian dilanjutkan dengan Beluk atau dzikir dengan suara keras dan bersaut-sautan dengan iringan tetabuhan. Pada sesi ini beragam atraksi dipertunjukkan. Beragam atraksi tersebut adalah sebagai berikut.

  • ·         Berguling di atas serpihan kaca atau beling yang tajam.
  • ·         Menduduki susunan golok yang tajam
  • ·         Membakar tubuh dengan api yang menyala.
  • ·         Menyiram tubuh dengan air keras.
  • ·         Menusukkan jarum ke lidah, pipi, atau anggota tubuh yang lainnya.
  • ·         Menusuk perut dengan tombak.
  • ·         Memakan pecahan kaca atau beling.
  • ·         Memakan api.
  • ·         Berjalan di atas kobaran api.
  • ·         Mengupas kelapa menggunakan gigi
  • ·         Mengiris anggota tubuh dengan golok.

Semua atraksi di atas tidak akan menimbulkan darah atau luka bagi para pemainnya. Hal ini bisa terjadi karena para pemain berserah diri kepada Allah dan berpedoman pada Al Qur’an untuk memperoleh perlindungan. Namun pemain debus juga harus memiliki syarat dengan nuansa mistis, meskipun begitu debus merupakan warisan leluhur masyarakat Banten yang harus dilestarikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Members
  • Active
  • New
  • Online
  • Groups
  • Active
  • Newest
1.
avatar
Yustisia Susandi
149206 points
Dark mode