Search
Generic filters
Exact matches only

Wanita Karir dan Berpendidikan Apa Salahnya?

0
8 months ago

Raden Ajeng Kartini tidak lepas perannya dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Perjuangannya agar kaum wanita dapat memperoleh hak mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan kesempatan yang sama untuk menerapkan ilmu agar tidak direndahkan derajatnya menjadikan beliau sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita. Di era yang modern ini penerapan emansipasi pun dapat diwujudkan dengan langkah-langkah yang mudah seperti tidak menggantungkan hidupnya pada siapapun dan hidup mandiri. Tidak heran bahwa banyak wanita yang mau menuntut ilmu setinggi-tingginya dan menjadi wanita karir.

Akan tetapi, tidak sedikit juga yang memberikan argumen bahwa wanita sebaiknya di rumah saja untuk mengurus keluarga. Ada juga pemikiran bahwa wanita yang menuntut ilmu setinggi-tingginya maka akan susah mendapatkan jodoh karena dikhawatirkan para lelaki akan minder karena jenjang pendidikan lebih rendah. Hal ini tentunya akan membatasi bahkan menghambat pencapaian cita-cita beberapa wanita yang terpengaruh akan argumen dan pemikiran tersebut.

Padahal wanita yang juga bekerja akan bisa membantu perekonomian keluarga, wanita karir juga cenderung bisa memanajemen waktu dengan baik, memiliki pemikiran yang solutif dan tidak mudah emosi, serta memiliki komitmen dan tidak merepotkan orang lain. Pendidikan tinggi yang diperoleh wanita yang berkarir pun bukan semata untuk membandingkan dengan para lelaki, tetapi untuk madrasah pertama bagi sang buah hati kelak. Lalu kalau begitu mengapa harus mengkhawatirkan wanita karir dan berpendidikan tinggi? Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan asalkan wanita karir bisa menempatkan diri dengan baik. Bisa membedakan perannya dan tidak melanggar kodratnya sebagai wanita.

Tidak ada salahnya menjadi wanita karir dan berpendidikan tinggi, yang salah adalah karir dan pendidikan yang tinggi dijadikan kedok untuk menyalahgunakan atau disalahgunakan kodratnya sebagai wanita. Contohnya adalah sebagai berikut.

  • Menjadikan wanita sebagai tulang punggung keluarga yang menopang seluruh kebutuhan keluarga padahal suami masih mampu untuk bekerja.
  • Wanita menuntut kebebasan untuk lebih leluasa melakukan apa saja seperti pergi keluar rumah tanpa mengenal waktu.
  • Tidak menghargai lawan jenis karena beberapa wanita merasa apa yang ia hasilkan lebih tinggi dan baik. Jika hal ini terjadi dalam sebuah keluarga maka mungkin saja akan menimbulkan masalah yang berujung dengan perceraian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Members
  • Active
  • New
  • Online
  • Groups
  • Active
  • Newest
1.
avatar
Yustisia Susandi
149206 points
Dark mode